• Arsip

  • Komentar Terbaru

  • Iklan

KEBENARAN ILMIAH DAN SIKAP ILMUWAN


  1. A. Kebenaran ilmiah
  1. Memahami perbedaan antara Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan dengan ilmu.

Salam (2009), pengetahuan mencakup setiap hasil dari proses yang dilakukan oleh manusia untuk mengetahui sesuatu. Secara umum, kita mengenal empat jenis pengetahuan, yaitu:

  • pengetahuan biasa,
  • pengetahuan ilmu,
  • pengetahuan filsafat, dan
  • pengetahuan agama.

Berdasarkan pengelompokkan di atas, terlihat bahwa ilmu adalah bagian dari pengetahuan, dan pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan biasa) harus memenuhi persyaratan tertentu untuk dapat disebut sebagai ilmu.

Pengetahuan biasa atau lebih sering disebut sebagai pengetahuan saja atau common sense dihasilkan oleh sense umum manusia terhadap sesuatu. Misalnya, makanan dapat menghilangkan rasa lapar, hujan dapat menyuburkan tanaman. Namun demikian, pengetahuan biasa umumnya merupakan kebenaran atau kepercayaan yang tidak pernah diuji, sehingga kebenarannya dapat saja diragukan.

Pengetahuan ilmu atau umumnya disebut ilmu, sebenarnya merupakan akumulasi pengetahuan biasa, namun telah disusun secara cermat dengan menggunakan apa yang disebut metode ilmiah. Oleh karena itu, ilmu memiliki sifat yang sangat berbeda dengan jenis pengetahuan lainnya, yaitu: rasional, empiris, umum, akumulatif, tidak mutlak, dan obyektif.

Pengetahuan filsafat atau umumnya disebut filsafat dan pengetahuan agama, memiliki sifat yang berbeda dengan pengetahuan biasa atau pun pengetahuan ilmu. Filsafat menunjuk pada kebenaran yang mengakar pada prinsip yang mendasar dari suatu fenomena, sedangkan pengetahuan agama adalah kebenaran yang bersumber dari agama, yang umumnya lebih bersifat mutlak.

  1. Asal Muasal Pengetahuan Manusia

Salam (2009), dari mana pengetahuan manusia muncul atau diperoleh? Ada empat buah sumber utama yang menghasilkan pengetahuan manusia.

Yang pertama adalah murni pengalaman manusia, yang dalam perkembangannya kemudian melahirkan sebuah aliran yang menurut beberapa tulisan dipimpin oleh John Locke yang disebut Empirisme. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan dapat diperoleh dengan pengalaman langsung melalui penginderaan atau observasi.

Namun demikian, sebagian orang menganggap bahwa Empirisme tidak dapat memberikan kepastian, paling jauh aliran ini hanya memberikan kesimpulan dengan peluang yang tinggi. Selain itu, Empirisme biasanya memberikan pemahaman yang bersifat parsial terhadap sesuatu yang universal. Oleh karena itu kemudian muncul aliran yang kedua, yang disebut Rasionalisme, yang di antaranya dipelopori oleh Rene Descartes, yang meyakini bahwa pengetahuan sebenarnya bersumber dari akal manusia (rasio). Akal manusia dapat mengetahui suatu kebenaran yang tidak mungkin dapat dijangkau melalui observasi. Dengan Rasionalisme dapat juga diuji keberadaan hukum sebab-akibat dari banyak fenomena alam.

Sumber pengetahuan yang ketiga adalah aliran Intuisionisme, yang merupakan metode pencarian kebenaran dengan tidak mendasarkan pada penalaran maupun penginderaan. Aliran Intuisionisme berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan khusus untuk mengetahui sesuatu yang tidak terikat kepada indera maupun penalaran. Pengetahuan dianggap tidak berasal dari luar tetapi dari dalam diri manusia, sehingga diri manusia dapat menangkap aspek yang lebih fundamental. Oleh karena itu, intuisi bersifat individual dan tidak dapat dikomunikasikan atau bersifat tertutup.

Yang keempat adalah Wahyu Tuhan, yang tertulis di dalam kitab suci sebagai agama samawi. Satu hal yang perlu diketahui berkaitan dengan sumber ini adalah bahwa pengetahuan yang dilahirkannya, dimulai dengan suatu kepercayaan terhadap kebenaran yang tertulis dalam kitab suci. Ini tentunya berbeda dengan pengetahuan yang berasal dari sumber lain, yang dimulai dengan ketidakpercayaan atau keraguan. Dengan keraguan ini manusia berangkat untuk membuktikan kebenaran dan diakhiri dengan suatu kepercayaan terhadap kebenaran tersebut.

  1. Menyingkap tabir kebenaran ilmiah

Penelitian pada hakekatnya merupakan usaha mengungkap kebenaran, dengan berusaha mengungkap tabir kebenaran.

Salam (2009), seringkali kita ragu-ragu untuk menentukan apakah pikiran sehat (common sense) dapat dikategorikan sebagai salah satu inkuiri ilmiah (scientific atau disciplined inquiry), yang bertujuan untuk memperoleh kebenaran ilmiah. Seperti kita ketahui bersama, bahwa kebenaran dapat dibedakan dalam empat lapis. Lapis paling dasar adalah kebenaran inderawi yang diperoleh melalui panca indera kita dan dapat dilakukan oleh  siapa saja; lapis di atasnya adalah kebenaran ilmiah yang diperoleh melalui kegiatan yang sistematik, logis, dan etis oleh mereka yang terpelajar. Pada lapis di atasnya lagi adalah kebenaran falsafati yang diperoleh melalui kontemplasi mendalam oleh orang yang sangat terpelajar dan hasilnya diterima serta dipakai sebagai rujukan oleh masyarakat luas. Sedangkan pada lapis kebenaran tertinggi adalah kebenaran religi yang diperoleh dari Yang Maha Pencipta melalui wahyu kepada para nabi serta diikuti oleh mereka yang meyakininya.

Kebenaran religi merupakan kebenaran mutlak. Kita hanya mempunyai  dua pilihan: ambil atau tinggalkan (take it or leave it); kalau kita mengambilnya atau menganutnya maka kita harus mengerjakan semua perintah atau ajarannya. Namun justru karena perkembangan dalam falsafah dan agama itu sendiri, serta perkembangan budaya dan akal manusia, maka kita mulai mempertanyakan apakah memang kebenaran mutlak itu mengharuskan adanya kesatuan pengertian dalam segala hal mengenai hidup, kehidupan, dan bahkan alam semesta ini yang seragam? Mulailah berkembang berbagai mazhab atau aliran dalam bidang falsafah dan agama dengan memberikan penafsiran terhadap apa yang telah diperintahkan secara tertulis.

Kalau kebenaran falsafi dan religi saja memungkinkan adanya tafsir yang menimbulkan mazhab atau aliran tersendiri, apalagi dalam memperoleh kebenaran ilmiah. Kita semua dilahirkan sebagai mahluk yang unik, masing-masing di antara kita berbeda. Kalau penampakan kita saja dapat dibeda-bedakan, seperti misalnya sidik jari dan DNA, apalagi yang kasatmata yang ada dalam otak dan hati kita masingmasing. Suatu gejala atau peristiwa yang sama, dapat diberi arti yang lain oleh orang yang berlainan. Timbul pula pertanyaan apakah gejala yang kita amati di sekitar kita yang didasarkan pada akal sehat (common sense) dapat pula dipertimbangkan sebagai kebenaran yang dapat diterima secara ilmiah.

  1. Paradigma dalam mencari kebenaran

Pada dasarnya semua manusia selalu ingin menari kebenaran, namun demikian, cara menunjukkan atau cara memperoleh kebenaran tersebut berbeda-beda. Menurut Thomas Kuhn (Poedjiadi: 2001,38), metode yang digunakan untuk mencari kebenaran dilandasi oleh “paradigma” tertentu.

Menurut Poedjiadi (2001:39) paradigma merupakan cara pandang kelompok ilmuwan tertentu dalam menghadapi suatu masalah. Dalam kajian tertentu, mereka sepakat menerima praktik-praktik, hukum, teori, konsep-konsep, dan instrumen-instrumen yang dipilih sehingga melahirkan tradisi penelitian tertentu untuk mencari “kebenaran”.  Beberapa paradigma untuk mencari kebenaran adalah paradigma logika, paradigma positivistic atau paradigma sains, paradigma naturalistis, dan paradigma modus operandi.

  1. Paradigma logika memandang bahwa kebenaran dapat ditunjukkan bila ada konsistensi dengan aksioma dan definisi-definisi yang berlaku. Aplikasinya misal pada kelompok matematika, ilmu computer dan filsafat.
  2. Paradigma positivistik atau paradigma sains, kebenaran diperoleh setelah hipotesis diverifikasi melalui eksperimen. Pendekatan postivistik berakar pada ilmu-ilmu eksakta. Paradigma  positivistik diaplikasikan dalam penelitian  kuantitatif yang mempersyaratkan adanya variabel yang dikontrol, pengacakan sampel, pengujian validitas dan realibilitas instrumen, dan ditujukan untuk menggeneralisasi sampel ke dalam populasi. Termasuk dalam kategori penelitian ini adalah eksperimen, kuasi-eksperimen, survai, desain pretest-postest, korelasi dan lain-lain.

Hadimiarso (2003), tradisi positivistik ini menggunakan landasan berpikir: ”kalau sesuatu itu ada, maka sesuatu itu mengandung besaran yang dapat diukur.” Banyak di antara kita menganggap bahwa pernyataan itu masuk akal, sebab kalau kita tidak dapat mengukur dengan tepat, bagaimana kita dapat mengetahui hubungan dengan variabel lain. Para positivis berpendapat bahwa penelitian adalah pengamatan obyektif atas peristiwa yang ada di alam semesta, di mana peneliti tersebut tidak mempunyai pengaruh atau dampak terhadap peristiwa tersebut. Teori penguatan (reinforcement theory) oleh Skinner misalnya, merupakan rampatan dari percobaan laboratorik dengan merpati. Peneliti memberikan berbagai macam rangsangan kepada burung merpati yang dikurung, dan reaksi burung itu dicatat dan diulang hingga diperoleh atau terjadi peristiwa yang berlaku secara tetap. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, lahirlah kemudian teori yang mendasari dikembangkannya pengajaran terprogram, antar lain dalam bentuk “mesin pengajaran” (teaching machine), Para penganut positivistik yang setia memandang pengetahuan sebagai pernyataan mengenai keyakinan atau fakta yang dapat diuji secara empirik, dapat dikonfirmasi atau dapat ditolak. Variabel mengenai ciri manusia, seperti misalnya kemampuan berbahasa, dapat dinyatakan dalam bentuk istilah fisik yang dapat dihitung sebagaimana halnya dalam ilmu alam. Kemampuan membaca misalnya ditunjukkan dengan indikator perbendaharaan kata, gramatika, ejaan, dan pemahaman. Indikator ini kemudian dijabarkan secara kuantitatif dalam serangkaian instrumen yang hasilnya dapat dinyatakan dengan angka. Demikian pula motivasi belajar misalnya dijabarkan dalam indikator operasional keinginan, ketekunan, usaha, persaingan dan sebagainya. Indikator operasional ini dijabarkan lebih lanjut dalam serangkaian instrumen yang dapat dikuantifikasikan. Oleh karena itu pendekatan positivistik ini seringkali juga dikenal sebagai paradigma kuantitatif karena semua datanya perlu ditransfer dalam bentuk angka yang dapat dihitung.

Pendekatan positivistik ini telah begitu dominan ibarat tabir yang menutupi berbagai upaya yang memperoleh kebenaran dengan melalui cara lain. Yang lebih parah lagi bahkan dibuat pedoman untuk melakukan penelitian dengan format yang standar termasuk harus adanya hipotesis dan pengujian atas hipotesis tersebut. Pembakuan seperti ini mungkin dilakukan untuk mempermudah pengelolaan, tetapi juga dicurigai bahwa para pengambil keputusan yang menetapkan pedoman tersebut tidak peduli (ignorance) dengan berbagai pendekatan atau paradigma baru dalam memperoleh kebenaran ilmiah.

  1. Teknik yang dilakukan paradigma naturalistis adalah studi lapangan. Dengan pengalaman yang cukup dalam meneliti fenomena di lapangan yang memang tidak dapat dielakkan, lalu kemudian diambil kesimpulan. Aplikasinya misal pada kelompok sejarah, ilmu politik, dan konseling.

Miarso (2003), paradigma ini disebut juga sebagai paradigm pascapostivistik/fenomenologik yang berakar pada tradisi dalam sosiologi dan antropologi yang bertujuan untuk memahami suatu gejala seperti apa adanya tanpa harus mengontrol variabel dan tidak berusaha menggeneralisasi gejala tersebut dalam gejala-gejala yang lain. Termasuk dalam penelitian ini adalah etnografi, studi kasus, studi naturalistic, sejarah, biografi, teori membumi (grounded theory), dan studi deskriptif.

Filsafat fenomenologik pertama kali dikembangkan oleh seorang matematikawan Jerman Edmund Husserl (1850-1938). Menurut Husserl seperti dikutip Creswell (1998:52) filsafat fenomenologik berupaya untuk memahami makna yang sesungguhnya atas suatu pengalaman dan menekankan pada kesadaran yang disengaja (intentionallity of consciousness) atas pengalaman, karena pengalaman mengandung penampilan ke luar dan kesadaran di dalam, yang berbasis pada ingatan, gambaran dan makna. Filsafat fenomenologik menganggap bahwa pengalaman bukanlah merupakan suatu dunia eksternal yang bersifat objektif. Pengalaman bukan sekedar lama waktu seseorang berinteraksi dengan lingkungannya, melainkan pelajaran yang diperoleh dalam rentangan waktu tertentu. Seorang dosen yang telah memberi kuliah selama 15 tahun dapat berarti mempunyai pengalaman setahun diulang 14 kali, jadi bukan berpengalaman 15 tahun. Untuk memahami pengalaman itu digunakan pemikiran, perasaan, tanggapan, dan berbagai ungkapan psikologis atau mental lain. Gejala yang diamati dari suatu pengalaman perlu dibandingkan dengan pengalaman lain agar hal-hal yang esensial dari berbagai pengalaman itu dapat dipahami. Hal-hal yang esensial tersebut selanjutnya perlu digabungkan dengan hasil pengalaman lain, sehingga dapat diidentifikasi kesamaan yang bersifat hakiki. Keberadaan manusia memang bersifat unik, karena adanya ciri-ciri khas yang melekat pada diri manusia itu sendiri-sendiri. Namun dari berbagai keunikan tersebut dapat disimpulkan adanya kebenaran yang berlaku umum.

Paradigma fenomenologik ini justru menggunakan akal sehat (common sense) yang oleh penganut positivistik dianggap tidak/kurang ilmiah. Akal sehat ini mengandung makna yang diberikan seseorang dalam menghadapi pengalaman dan kehidupannnya sehari-hari. Jadi tidak semata-mata didasarkan pada data atau informasi yang diperoleh melalui penginderaan. Dalam paradigma ini suatu kebenaran ilmiah tidak dimulai dengan adanya sejumlah teori yang mendasari, namun secara induktif mengakumulasikan pengalaman khusus menjadi umum, atau yang konkrit menjadi abstrak, dan bahkan kemudian bahkan mengukuhkan pengalaman itu menjadi teori (teori membumi = grounded theory) yang bersifat holistik (meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman yang bersangkutan). Kebenaran ilmiah menurut paradigma ini tidak bersifat nomotetik melainkan bersifat ideografik, yaitu mengungkap secara naratif dengan memberikan uraian rinci mengenai hakekat suatu objek atau konsep. Kebenaran itu juga bersifat unik dan hanya dapat ditransfer bila kondisi dan situasinya sama atau tidak berbeda. Kebenaran ini sarat dengan nilai (value loaded).

Kebenaran pascapositivistik ini masih belum lengkap, karena akhir-akhir ini telah berkembang perspektif ideologis baru, atau masih adanya tabir yang perlu diungkapkan lagi. Perspektif ideologis baru itu meliputi paradigma pasca modernis (postmodernism), paradigma kritis (critical paradigm), pendekatan feminis (feminist approaches), dan pendekatan konstruktivis. Paradigma baru ini pada dasarnya menganggap bahwa perkembangan ilmu tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Seperti halnya pada paradigma pasca positivistik, kebenaran dalam paradigma baru ini bersifat unik dan menekankan pada manusia sebagai mahluk yang mampu membangun pengetahuan sendiri yang tidak terlepas dari lingkungannya. Paradigma baru ini masih perlu dikaji dan dipelajari lebih dalam lagi untuk dapat disajikan.

Pendekatan pascapositivistik cenderung menggunakan teori secara bervariasi. Kebanyakan menggunakan teori sebagai “jendela” untuk mengamati gejala yang ada, dan berdasarkan data empirik dari lapangan yang berhasil dikumpulkan, dianalisis dan disintesiskan dalam bentuk teori sebagai teori yang membumi. Dengan kata lain, tidak berusaha untuk membuktikan teori. Pendekatan ini senantiasa memandang manusia sebagai mahkluk yang unik, oleh karena itu dalam penelitian untuk memecahkan masalah belajar misalnya, penelitian ini cenderung menggunakan landasan teori belajar konstruktivis. Teori ini secara ringkas menyatakan bahwa setiap orang membangun pengetahuan, sikap atau keterampilan berdasarkan pengalaman, pengetahuan yang telah ada sebelumnya, serta keserasian dalam lingkungannya. Jadi bersifat subjektif. Namun kalau apa yang dibangunnya itu dapat diterima oleh lingkungannya, maka terjadilah gejala yang dikenal dengan intersubjektivitas.

  1. Paradigma modus operandi memandang bahwa kebenaran diperoleh dengan melakukan pengujian atau penelitian secara periodik, sehingga didapatkan garis penyebab yang khas dai suatu peristiwa atau keadaan. Contoh bidang yang yang menggunakan metode seperti ini adalah diagnosis medic dan patologi.

Kebenaran ilmiah dapat diperoleh melalui berbagai cara yang dilandasi oleh paradigma tertentu. Di dunia ini tidak ada hal yang benar-benar mutlak, sebab kebenaran mutlak hanya ada pada Tuhan yang Maha Esa. Yang ada di dunia hanyalah kebenaran tentatif, validitas ilmiah. Sikap ilmiah merupakan hal yang sangat penting sebab sikap ilmiah ini sebagai kekuatan moral untuk memilih dan menggunakan metode ilmiah dalam menemukan kebenaran ilmiah. Metode berpikir kritis dalam disiplin ilmu yang satu, berbeda dengan ilmu lainnya. Berpikir kritis harus dilatihkan guru melalui disiplin-disiplin tertentu.

Skeptis adalah sifat tidak mudah percaya, selalu meragukan sebelum sesuatu dapat dibuktikan. Sikap ini akan mendorong ilmuwan untuk meneliti kembali pekerjaan ilmuwan sebelumnya. Paham ini pertama kali dikemukakan oleh Rene Descartes (Suriasumantri: 1990,50) de omnibus dubitandum (segala sesuatu harus diragukan). Hal ini dikutip juga oleh William Shakespeare dalam drama adegan II antara Hamlet yang berserk pada Ophelia:

Ragukan bahwa bintang-bintang itu api

Ragukan bhwa matahari itu bergerak

Ragukan bahwa kebenaran itu dusta

Tapi jangan ragukan cintaku

Seorang pengacara dalam membela kliennya, tidak hanya menafsirkan hukum dari aspek legal saja (secara deduktif membangun kesimpulan dari kasus), melainkan berusaha memasukkan aspek moral, sosial dan politik, sehingga diharapkan dapat menjadi suatu keputusan jurisprudensi tersendiri. Data dan informasi yang dikumpulkan tidak dari latar laboratorik maupun empirik, melainkan dengan cara empatik yaitu data yang diperoleh dengan membangun kepedulian dengan adanya getaran yang bermakna. Kebenaran diperoleh melalui penafsiran yang tidak memihak, meskipun dilandasi oleh prasangka dan adanya pengetahuan awal. Setiap pengacara akan bertolak dari azas praduga tidak bersalah sebagai suatu kebenaran. Dia berlindung dibalik azas ini tanpa “kelihatan” memihak kepada klien yang dibelanya. Kebenaran yang diusahakan adalah kebenaran yang dapat diterima oleh mereka yang berkepentingan. Kebenaran ini tidak bersifat bebas nilai.

  1. B. Sikap Ilmiah Seorang Ilmuwan

Dalam melakukan kegiatannya, baik dalam penelitian maupun dalam pengembangan konsep, hukum dan teori dalam disiplin ilmunya, seorang ilmuwan dituntut untuk memiliki sikap-sikap tertentu. Ia harus memiliki sikap-sikap positif sebagai pencerminan dari kapasitasnya sebagai manusia terpelajar yang selalu mencari kebenaran dari sumber-sumber asalnya. Beberapa sikap yang diuraikan berikut ini, tidak hanya spesifik bagi ilmuwan karena sipatnya yang memasuki daerah etika dan moral, misalnya kejujuran dan sikap menghargai pendapat orang lain. Sikap-sikap tersebut akan dibahas secara singkat berikut ini.

  1. Berpikir kritis

Berpikir kritis erat kaitannya dengan logika dan keterampilan menyelesaikan masalah. Logika telah menjadi bagian terpenting dari berpikir kritis. Dengan disiplin logika,  seorang ilmuawan akan bekerja menyelesaikan masalah dan mengungkap kebenaran dengan logis dan sistematis mengikuti alur pemikiran kausalitas yang runut. Keterampilan menyelasaikan masalah yang dimilikinya sebagai sebuah pengalaman berharga akan mempertajam dan menuntun pikiran dan dirinya dalam menyelasaikan permasalahan atau mengungkap suatu kebenaran dengan pola yang efektif dan efisien. Mengingat tugasnya sebagai pengmbang ilmu, maka berpikir kritis sangat perlu dimiliki oleh seorang ilmuwan.

  1. Inkuairi

Seorang ilmuwan senantiasa mempertanyakan apa, mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, atau apa, mengapa dan bagaimana suatu masalah itu muncul. Dengan pertanyaan-pertanyaan itu dia tak hanya diam dan merenung, namun juga mencari informasi melalui berbagai sumber, dan berusaha memecahkan masalah yang ia temukan. Sikap ini dinamakan inkuairi yang merupakan sikap naluriah yang dibawa anak sejak lahir. Sikap inkuairi ini akan mendorong ilmuawan gemar meneliti, sehingga ia dapat menemukan (discover) sesuatu dan karena keterampilan motorik serta kreatifitasnya dia juga dapat menemukan (invent) suatu karya. Apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya, maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.

  1. Tekun dan teliti

Sikap tekun seorang ilmuwan menyebabkan ia tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan, tidak akan berhenti melakukan kegiatan–kegiatan apabila belum selesai terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya. Ia berusaha bekerja dengan  teliti. Ketekunan dan ketelitian merupaka senjata ampuh bagi ilmuwan karena tanpa ketekunan dan ketelitian, experiment yang membosankan ditinjau dari segi waktu tidak akan memberikan hasil yang diinginkan. Sikap tekun dan teliti  menuntut ilmuwan agar tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, dapat berfikir secara sistematik, sehingga tidak menghasilkan kesimpulan yang kontroversial, khususnya berkaitan dengan pembuatan pernyataan atau publikasi ilmiahnya. Karena pola kerja yang tidak tergesa-gesa dan cermat melihat kekurangan-kekurangan untuk terus diperbaiki serta tetap mencari informasi atau sumber-sumber yang lebih valid untuk melengkapi dan menyempurnakan argument, maka hasilnya sudah pasti adalah sebuah ilmu baru yang akan memberikan manfaat sangat besar bagi kehidupan masyarakat banyak seperti yang telah diperlihatkan oleh Lavoisier sebagai seorang Pendiri Ilmu Kimia Modern.

  1. Skeptik

Istilah skeptik ini berarti tidak mudah percaya, selalu meraguka sebelum sesuatu dapat dibuktikan. Atas dasar inilah, sikap skeptik akan mendorong seorang ilmuwan untuk meneliti kembali pekerjaan ilmuwan sebelumnya, misalnya dengan memperbanyak variabel atau menelusuri prosedur penelitian yang telah dilakukan orang lain. Dengan cara ini terjadilah kesinambungan penelitian terhadap hal tertentu dan dengan memperbanyak variabel terjadilah pengembangan ilmu.

Sikap skeptik juga menunjukan keluasan wawasan yang dimiliki seorang ilmuwan. Dengan wawasan lebih yang dimilikinya, seorang ilmuwan dapat melihat sesuatu dari berbagai perspektif, sehingga dapat lebih jeli melihat kekurangan atau kelemahan sebuah obyek (ilmu) untuk kemudian di diperbaiki dan disempurnakan.OLeh karena itu selain sebagai pencari kebenaran (ilmu), seorang ilmuwan juga, dengan sikap skeptisnya ini, ia juga adalah seorang pengkritik masalah sekaligus pemberi solusi dari masalah tersebut.

  1. Jujur dan bertanggung jawab terhadap masyarakat

Dalam melakukan penelitian, seorang ilmuwan tidak boleh memanipulasi data. Artinya apapun hasil yang diperoleh harus dikomunikasikan di depan sesame ilmuwan dengan penuh kejujuran. Seorang ilmuwan akan sangat tercela jika penelitian yang dilakukannya hanyalah sebuah jiplakan karya orang lain yang dikemas dengan penampilan lain. Publikasi yang dilakukannya, pada ahirnya akan diketahui khalayak sebagai suatu kebohongan besar. Kejadian seperti ini telah sempat ditulis dalam sebuah situs (http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menyoal-kejujuran-ilmuwan/):… “Dunia Fisika telah terlebih dahulu diguncangkan oleh kasus serupa yang lebih spektakuler skalanya. Oktober tahun lalu, Science, sebuah majalah ilmiah terkemuka lain, mencabut sekaligus 8 makalah dengan Hendrik Schon sebagai penulis utamanya. Schon adalah seorang superstar sains asal Jerman dan bekerja pada sebuah lembaga riset yang sangat disegani Lucent Technologies’ Bell Labs. Dia telah menghasilkan lebih dari 80 makalah di jurnal-jurnal terkemuka dan mendapat berbagai penghargaan ilmiah. Dia juga telah melakukan pekerjaan penting dalam bidang ilmu bahan dan elektronika, khususnya dalam masalah semikonduktor molekul, laser, dan superkonduktor temperatur tinggi. Hasil-hasil risetnya membuat ia ditunjuk menjadi Direktur di Max Plank Institute (sebelum akhirnya dibatalkan karena kecurangannya) dan dijadikan kandidat penerima hadiah Nobel”.

Namun demikian untuk menyampaikannya kepada masyarakat perlu ada penyaringan agar tidak terjadi keresahan atau salah tafsir yang dapat merugikan masyarakat. Dalam hal ini peneliti perlu juga mempelajari tingkat pemahaman dan kultur yang ada dalam masyarakat, sehingga hasil penelitian yang dilakukannya tidak memunculkan keresahan atau mungkin kemarahan khalayak yang akan menjadi bomerang bagi peneliti sendiri.

  1. Terbuka

Seorang ilmuwan harus dapat menerima saran dan kritik dari orang lain. Informasi tentang hasil penelitian biasanya memperoleh tanggapan dan saran atau kritik dari sesame ilmuwan. Kritik, khususnya yang membangun harus dapat diterima dengan lapang dada.Karena dengan demikian seorang peneliti dapat mengintrospeksi dan memperbaiki kesalahan atau kekurangtelitian yang telah diperbuat. Dengan demikian disamping menyadari tentang kekurangannya itu, ia juga menghargai pendapat orang lain.

  1. Toleran

Seorang ilmuwan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bersedia mengakui bahwa orang lain mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih luas, atau mungkin saja pendapatnya bisa salah. Dalam belajar menambah ilmu pengetahuan ia bersedia belajar dari orang lain, membandingkan pendapatnya dengan pendapat orang lain, serta tidak memaksakan suatu pendapat kepada orang lain. Dalam pikiran seorang ilmuwan terdapat ruang “toleran”; sebuah ruang untuk menempatkan kebenaran ilmiah sebagai sesuatu yang lebih bebas untuk diinterpretasikan dalam batas-batas tertentu. Batas tegas dalam jiwa seorang ilmuwan hanya ada antara  kebenaran dengan ketakbenaran. Seorang ilmuwan akan menyatakan dengan mantap” Pendapatku memang benar, tapi mungkin mengandung kesalahan. Dan pendapat orang lain memang salah (kurang tepat), tapi mungkin mengandung kebenaran”

DAFTAR  BACAAN

Miarso, Yusufhadi. 2003. Menyingkap Tabir Kebenaran Ilmiah. Jurnal Pendidikan Penabur – No.05/ Th.IV/ Desember 2005. Tersedia online

Poedjiadi, Anna. 2001. Pengantar Filsafat Ilmu Bagi Pendidik. Edisi kedua. Bandung: Yayasan Cendrawasih.

Salam, Abdul Kadir. 2009. Artikel online: Filsafat dan Metodologi Penelitian Eksakta. Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bandar Lampung. Di posting 7 Juli 2009, di download 2 Nopember 2009. http:www:/Prof. Dr. Abdul Kadir Salam_Filsafat dan Metodologi Penelitian Eksakta.htm

S. Suriasumantri, Jujun. 1990. Filsafat Ilmu. Edisi keenam. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: